DAMPAK COVID 19 BAGI PETANI TEMBAKAU DI KECAMATAN KABUH

oleh: Ari Setya Sukarsih

 

Di awal masuk virus covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2020 lalu, membawa dampak yang sangat signifikan bagi masyarakat Indonesia. Semua lapisan masyarakat terkena dampak dari adanya virus tersebut, Hal ini disebabkan karena virus corona dapat menular dengan cepat, sehingga pemerintah memberlakukan pembatasan sosial kepada seluruh lapisan masyarakat. Dampak dari pembatasan sosial tersebut hampir pada semua lapisan masyarakat termasuk pada pabrik tanaman tembakau.

Tembakau memberi sumbangsih luar biasa terhadap penerimaan negara, tenaga kerja, dan terhadap kesejahteraan petani. Kolaborasi stakeholder, pabrikan, seluruh pelaku usaha, petani dan industri akan membuat ketahanan menghadapi pandemi. Selama ini, petani menghadapi banyak tantangan untuk menghasilkan tembakau berkualitas, termasuk dalam pengelolaan sebelum dan sesudah, fluktuasi harga di tingkat petani, hingga akses permodalan.

Sebagian besar petani di kecamatan Kabuh pada musim kemarau yaitu sekitar bulan April – September menanam tembakau. Hal ini karena jenis tanah yang sesuai untuk karakteristik jenis tanaman tembakau. Selain itu pengairan yang sulit dan suhu yang panas sehingga sangat mendukung untuk budidaya tanaman tembakau

Harga tanaman tembakau fluktuatif sehingga petani tidak bisa memprediksi harga yang dipatok pada saat panen. Sehingga para petani menanam tembakau dengan taruhan antara rugi atau laba. Pada saat menanam tembakau banyak sekali pengeluaran yang dikeluarkan dari mulai membeli bibit tembakau yang sudah berakar pendek, menyiapkan lahan untuk ditanami tembakau. Selain itu pupuk dengan harga yang sangat mahal dan juga harus menyirami tanaman tembakau tersebut setiap hari. Padahal air disana tidak ada sehingga ada sebagian petani yang mempunyai lahan yang cukup luas sehingga membuat sumur di sawah. Akan tetapi petani yang mempunyai lahan yang cukup sempit membeli air tersebut dari sawah yang terdapat sumur dengan cara di diesel melalui pipa selang dengan harga yang sangat mahal. Bahkan terkadang 1 petak sawah dengan harga antara 200 sampai 500 ribu sekali membeli air. Sebenarnya beberapa desa terdapat waduk yang bisa digunakan untuk irigasi. Akan tetapi karena terlalu banyak yang memakai dan volume air yang cukup sedikit, sehingga waduk tersebut kurang bisa membantu irigasi untuk tanaman tembakau.

Pada saat pandemi covid 19 seperti sekarang ini banyak pabrik yang tutup karena adanya pembatasan sosial terhadap semua lapisan masyarakat yang berdampak pada tingkat pembelian dan penjualan. Hal itu menyebabkan banyak perusahaan yang memPHK karyawannya. Demikian juga dengan pabrik tembakau yang juga terkena dampak dari adanya pandemi covid 19. Banyak pabrik rokok yang mengalami gulung tikar akibatnya jumlah permintaan terhadap hasil tanaman tembakau menjadi berkurang. Permintaan yang berkurang atau menurun terhadap hasil tanaman tembakau menyebabkan harga tembakau menurun drastic. Pada tahun lalu harga tembakau yang sudah dijemur dan dipotong kecil kecil dan ditata dengan rapi harganya berkisar 30-40 ribu per kilogram. Akan tetapi tahun ini hanya sekitar 15-20 ribu rupiah per kilogram.  Keresahan petani tembakau ini terjadi di kecamatan kabuh dan pada umumnya di seluruh wilayah yang pada saat musim kemarau juga menanam tanaman tembakau.

Dampak yang dirasakan petani begitu terlihat dari daya beli masyarakat yang menurun seperti pembelian elektronik atau benda lainnya. Peran pemerintah dibuttuhkan dalam permasalahan harga tembakau sehingga pemerintah dapat mematok harga yang bisa mensejahterakan para petani tembakau. Semoga pandemi covid 19 segera berakhir dan semua aktivitas bisa berjalan seperti sediakala.

Sekian dan terimakasih

Comments (264)