PEMBELAJARAN HOTS

Penulis : Luis ardiana. 

PEMBELAJARAN BERORIENTASI HOTS­_ Pembelajaran  berorientasi pada ketrampilan berpikir peserta didik dalam memperoleh informasi baru kemudian disimpan dalam memorinya, selanjutanya peserta didik dapat menghubungkan dan menyampaikannya sesuai dengan harapan. Ketrampilan berpikir tingkat tinggi pada peserta didik dapat dengan memberikan masalah atau studi kasus yang tidak biasa dan tidak menentu namun dapat diawali dengan permasalahan disekitar lingkungan mereka ( kearifan lokal atau muatan lokal), sehingga peserta didik berhasil menjelaskan, memutuskan, menunjukkan dan menghasilkan penyelesaian masalah dalam konteks pengetahuan dan pengalaman.

               Konsep berpikir tingkat tinggi berasal dari Taksonomi Bloom. Bloom menggolongkan tingkatan proses berpikir dari tingkatan tinggi sampai rendah. Ada enam tingkatan taksonomi Bloom yakni : pengetahuan, pemahaman, aplikasi, sintesis, dan evaluasi. Tingkatan pertama dan kedua dari taksonomi Bloom dianggap sebagai kemamouan berpikir tingkat rendah, sedangkan empat tingkatan diatasnya digolongkan sebagai ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Namun, Anderson dan Krathwohl kerangka  menyatakan bahwa indikator untuk mengukur ketrampilan berpikir tingkat tinggi meliputi menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan. Secara sederhananya High Order Thinking Skill (HOTS) atau ketrampilan berpikir tingkat tinggi merupakan proses berpikir yang kompleks. Dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan melibatkan aktivitas mental yang paling dasar. Hal  ini sejalan dengan karakteristik pembelajran pada abad 21 harus mampu mengembangkan ketrampilan kompetitif.

Beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam pembelajaran dengan ketrampilan berpikir tingkat tinggi. Yaitu :

1.     Transfer knowledge

Ketrampilan berpikir sesuai dengan ranah kognotif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (ketrampilan) dimana merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Untuk pembelajaran berorientasi HOTS maka level kognitif berada pada C4 ke atas, yaitu menganalisis, menyimpulkan, mencipta atau membangun.

         Pembelajaran yang berlangsung diharapkan memberi  kesempatan kepada peserta didik pada ranah kognitif  untuk menganalisis persoalan dan pada ranah ketrampilan untuk mengkomunikasikan kepada orang lain.

2.    Critical and creative thinking

dalam pembelajaran berorientasi HOTS  ketrampilan yang diharapakan yaitu dalam memecahkan permasalahan yang muncul dan mengambil keputusan. Dengan cara menganalisis, menginvestigasi dan menyimpulkan. Pembelajaran harus memberi  kesempatan pada peserta didik untuk berpikir kritis, melakukan  kegiatan percobaan, pengolahan data, diskusi diharapkan dapat merangsang peserta didik untuk terampil, berani bertanya, mampu meyusun hipotesis dan mampu menyimpulkan.

3.    Problem solving

Dalam pembelajaran harus mempunyai keinginan yang kuat untuk dapat memecahkan masalah yang muncul pada kehidupan sehari- hari. Pembelajaran yang tidak hanya dengan menggunakan ceramah saja.  Praktik dan memanfaatkan segala yang ada di sekitar kita, sehingga peserta didik memilki kemampuan untuk memecahkan masalah.

Penerapan ketrampilan berpikir tingkat  tinggi HOTS pada kurikulum 2013. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam melatih peserta didik dalam berpikir tingkat tinggi pada kurikulum 2013, antara lain sebagai berikut :

1.     Membuat Mind Map (peta konsep)

2.    Mengajukan pertanyaan

3.    Pembelajaran berbasis teknologi informasi

4.    Menggunakan analogi

5.    Eksperimen berbasis inkuiri

6.    Metode proyek 

Ketrampilan dalam pembelajaran yang diharapkan dalam orientasi HOTS dapat muncul jika guru sebagai fasilitator. Guru harus mampu mendesain pembelajaran yang tepat. Pemilihan model pembelajaran sesuai dengan karakteristik materi. Sehingga guru harus memiliki ketrampilan dalam pemilihan model pembelajaran.  Dalam pembelajaran berorientasi HOTS,  model-model  pembelajaran antara lain :

 

1.     Model penyingkapan (discovery learning/ Inquiry learning)

model-penyingkapan.jpg

2.     Model berbasis masalah (Problem based learning),

Langkah- langkah pembelajaran dalam PBL antara lain:

model-basis-masalah.jpg

3.     Model pembelajaran berbasis Projek

Langkah- langkah pembelajaran Pembelajaran berbasis projek

basis1.jpg

basis2.jpg

Selain 3 model tersebut yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 22 tahun 2016, guru juga diperbolehkan mengembangkan pembelajaran di kelas dengan menggunakan model pembelajaran yang lain.

Comments (264)