SMAN Kabuh

Sejarah SMA Negeri 1 Kabuh


Pada era orde baru telah berkuasa sebuah partai politik yang sangat besar dengan basis pendukungnya terbesar di seluruh pelosok tanah air. Partai tersebut telah memenangkan pemilu berturut – turut mulai dari pemilu tahun 1971, 1977, 1982 dan 1987. Partai politik tersebut adalah Partai Golkar ( Golongan Karya ).

Pada pemilu tahun 1987, masing – masing peserta pemilu dari partai politik ( parpol ) termasuk partai Golkar mengadakan suatu kegiatan kampanye untuk mencari dan merekrut para partisipan atau pendukungnya guna memenangkan pemilu tersebut. Pada saat itu Kecamatan Kabuh merupakan tempat yang dianggap strategis untuk kampanye partai yang berlambang pohon beringin tersebut.

Karena mengingat sejarah bahwa masyarakat kabuh merupakan basis partisipan partai Golkar di daerah Jombang. Kegiatan kampanye parpol Golkar dilaksanakan di Kecamatan Kabuh dengan dihadiri oleh Bapak Soedharmono selaku Ketua DPP Golkar Pusat didampingi oleh para pejabat Komisaris Golkar Kecamatan Kabuh, Komisaris Golkar Kabupaten Jombang. Selesainya acara tersebut diadakan acara ramah tamah yang dilaksanakan di kantor Kecamatan Kabuh.

Pada acara ramah tamah tersebut bapak Moh Idris selaku camat Kecamatan Kabuh pada saat itu dan Komisaris Golkar Kecamatan Kabuh telah mengusulkan idenya untuk membangun suatu lembaga pendidikan SMA Negeri di daerah Kecamatan Kabuh kepada Bapak Soedharmono untuk dilanjutkan ke Pemerintah Pusat. Usulan tersebut direspon dengan baik oleh Bapak Soedharmono untuk diperjuangkan ke Pemerintah Pusat.

Proses perjuangan mewujudkan cita – cita masyarakat Kabuh untuk mendapatkan SMA Negeri ini sangat panjang dan melelahkan, namun Bapak Idris dan Komisaris Golkar Kecamatan Kabuh yang didukung sepenuhnya oleh masyarakat pantang menyerah, proposal yang diajukan ke Kanwil Depdikbud Provinsi Jawa Timur akhirnya diterima dan dikabulkan dengan catatan persyaratan mendirikan SMA Negeri dipenuhi.

Adapun persyaratan yang dimaksud antara lain :

  • Terdapat lahan untuk bangunan gedung
  • Daerah tempat dibangunnya SMA Negeri minimal memiliki 5 Lembaga pendidikan setingkat SMP
  • Partisipasi masyarakat yang tinggi

Untuk pemecahan masalah pertama diadakanlah musyawarah ditingkat kecamatan yang dihadiri oleh Camat, Kades, Tokoh Masyarakat dan komisaris Golkar untuk membahas lahan tempat gedung itu akan dibangun. Hasil dari musyawarah tersebut disepakati membeli lahan milik Bapak Karsono ( Kades Kabuh ) sebagian lagi lahan milik Bapak Satinah, Bapak Asnan dan Bapak Kasan warga Brumbung Desa Kabuh. Dalam pembayaran pembelian lahan tersebut dilakukan secara angsuran dan seluruh warga masyarakat Kecamatan Kabuh dikenakan iuran yang besarnya tidak ditentukan.

Pemecahan syarat kedua ditempuh dengan jalan negosisasi – negosisasi dengan pejabat Kanwil Depdikbud Jawa Timur karena pada saat itu di Kecamatan Kabuh hanya terdapat 3 Lembaga Pendidikan setingkat SMP yaitu SMP Dharma Bhakti, MTs Sunan Gunung Jati dan SMP Negeri 1 Kabuh. Dengan kondisi tersebut akhirnya proposal permohonan pendirian SMA Negeri Kabuh dikabulkan.

Pada tanggal 5 Mei 1991 merupakan moment yang sangat penting bagi masyarakat Kabuh dan sekitarnya karena pada tanggal tersebut telah diresmikan suatu lembaga pendidikan SMA Negeri dengan sebutan SMA Penunjang, oleh Bapak Drs. Moh. Idris selaku Camat Kecamatan Kabuh. Dikatakan SMA Penunjang karena pemerintah hanya sebatas memberikan fasilitas gedung saja, selebihnya harus disiapkan oleh masyarakat sendiri. Adapun bantuan gedung yang dimaksud terdiri dari 4 lokal untuk Kelas 1, 2 lokal untuk Ruang Kepsek, TU dan ruang Guru serta 1 lokal untuk Ruang Perpustakaan. Sedangkan untuk tenaga pendidik masih dirangkap oleh sebagian besar guru SMA Negeri Ploso.